Artikel Website
Jadilah Pemandu Sorak untuk Menyemangati Diri
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, setiap 40 detik, seseorang mengakhiri hidupnya. Angka ini setara dengan 800.000 jiwa setiap tahunnya yang kehilangan nyawa akibat bunuh diri. Bagaimanakah mencegahnya? Bagaimana cara membentengi diri, keluarga, dan orang terdekat agar jauh dari bunuh diri? Mungkin, salah satunya dengan membaca buku.
Buku Heart Talk mengajak para pembaca untuk menyelami jiwa dan bersahabat dengan diri sendiri. Cleo Wade adalah seorang seniman dan penyair. Dia bekerja untuk mempromosikan dunia yang lebih damai dan penuh kasih. Wade mengungkapkan semuanya melalui puisi, cerita, karya seni, dan media sosialnya untuk menyemangati jiwa.
Setiap manusia sering terlalu puas dan merasa bangga jika berhasil menyoraki, mendukung, dan memberi nasihat bijak untuk sahabat-sahabat. Tetapi, bagaimana dengan menjadi sahabat bagi diri sendiri? Apakah pembaca bisa menjadi cermin untuk diri sendiri dan memberi nasihat kepada diri sendiri dalam situasi yang sulit? Apakah pembaca bisa menyoraki diri sendiri ketika mengambil risiko? (Hal 88). Tidak banyak manusia dapat melakukannya. Bahkan, banyak yang lupa.
Selain berisi pikiran-pikiran dan kutipan-kutipan, dalam bukunya, Cleo Wade juga menyelipkan beberapa puisi tentang kehidupan, ketakutan, dan cinta. Hidup tidak selalu memberi jalan yang mudah. Hidup tidak selalu memperbolehkan kita berada di kerangka pikir yang tepat untuk selalu melakukan yang tepat di saat tepat. Semua ini bisa jadi pengingat bahwa kita manusia (Hal 53). Cukup cintai dirimu sendiri. Cukup katakan kepada dirimu bahwa tidak apa-apa kamu takut. Sebab kamu tahu dapat menghadapi, sebesar apa pun rintangan.
(to be continued)
Artikel Website
Asem Segerrrrr Kuah Jruek
Oleh Vanda Deosar 07 May 2013
Kuah Jruek merupakan makanan khas pantai Aceh bagian barat, mungkin sebagian orang belum pernah mendengar tentang Kuah Jruek, karena Kuah Jruek tidak terkenal seperti pliek ue. Pada dasarnya kedua makanan ini sama, yang berbeda adalah bumbu yang dipakai, jika Pliek ue memakai kelapa yang di fragmentasi maka Kuah Jruek memakai durian. Jruek dalam bahasa Indonesia bermakna diasamkan, namun tingkat asamnya tidak sampai menghasilkan kadar alkohol dalam bahan dasar bumbu jruek sehingga masih bisa dikonsumsi dan masih tergolong halal.
Biasanya Kuah Jruek dimasak untuk perayaan-perayaan hari besar, misalnya Pesta Perkawinan atau Pesta Meugang (makan daging sepuasnya). Sama seperti kuah pliek ue, kuah jreuk juga menjadi kebanggaan masyarakat di pesisir Aceh bagian barat. Betapa tidak, menurut masyarakat disana, kuah jreuk sudah ada sejak zaman dahulu, dan selalu menjadi pilihan menu untuk setiap acara penting di daerah tersebut. Selain untuk acara besar, kuah jruek sering juga dijadikan masakan khas untuk menjamu tamu dari luar kota yang berkunjung ke rumah, hanya saja pada waktu tertentu kuah jruek ini susah didapati karena sudah semakin jarang orang yang membuat bumbunya, maklum terkadang butuh proses sedikit lebih lama. Selain waktu yang lama, pembuatan bumbu kuah jruek hampir saja hilang karena minat masyarakat semakin berkurang dan hanya pada musim tertentu saja orang-orang membuatnya.
Jruek terbuat dari daging durian yang sudah difermentasi, bagi yang tak pernah mencobanya pasti akan terbayang rasa durian yang lezat, manis dan harum. Tapi tunggu dulu, setelah difermentasi dengan cara diendapkan dalam botol daging durian ini telah berubah rasa, menjadi lebih asam, dan aroma harumnya menjadi hilang.
Kadang-kadang masyarakat setempat mengolah Kuah Jruek ini menjadi sambal untuk menu makanan, racikannya tinggal ditambah cabai dan bawang merah dan bumbu lainnya. Rasanya memang agak-agak aneh di lidah, tetapi bagi yang menyukai rasa asam bisa membangkitkan selera makan lho.
(to be continued)