Naskah Feature
Inspirasi dari Dunia Mini “Taman Minimania”
“Karena di Minimania kami percaya, setiap manusia memiliki talenta yang berbeda-beda” begitu bunyi tulisan yang disematkan di dinding-dinding pintu masuk dan keluar Taman Minimania.
Sekelumit tentang Cimory dan Taman Minimania
Taman Minimania berlokasi di Desa Jatijajar, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Bagi yang telah mengenal Tempat Wisata Cimory on The Valley, Taman Minimania merupakan salah satu bagian di dalamnya. Isi tempat wisata ini adalah Miniatur Landmark dunia. Denga harga tiket masuk yang terjangkau – dua puluh lima ribu rupiah – Minimania cocok bagi wisatawan selfie yang senang mengkoleksi foto-foto untuk diunggah di sosial media.
Sedikit cerita tentang Cimory On The Valley, wisata keluarga dengan konsep edukasi ini diresmikan pada tahun 2013. Mini Zoo adalah wahana yang pertama dibangun. Di area yang disebut Cimory Dairyland tersebut, pengunjung dapat berinteraksi dengan berbagai hewan jinak.
Sejak tahun berdirinya hingga saat ini Cimory on The Valley telah mengalami banyak perkembangan baik dari segi penambahan hewan maupun perluasan area. Taman Minimania yang resmi dibuka untuk umum tanggal 1 Mei 2019 lalu adalah salah satu pengembangan terbaru dari Cimory on The Valley. Konsep yang diambil memang cukup berbeda karena sejauh ini Cimory selalu akrab dengan konsep alam. Meskipun begitu, Taman Minimania tetap tidak menanggalkan nilai edukasi yang merupakan unsur kuat dari wisata Cimory.
(to be continued)
Naskah Feature
Pulang
Merpati, sejauh apapun dia pergi, tidak ada hal yang dia rindukan melebihi rumahnya
sendiri. Februari 2009, setelah pergulatan panjang antara ketakutan dan kerinduan, akhirnya dia memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halamannya. Keinginannya yang paling besar ketika dulu meninggalkan Indonesia adalah dapat melihat tanah kelahirannya kembali suatu hari kelak. Empat puluh tahun kerinduannya terbayar dengan datangnya sepucuk surat dari pemimpin tertinggi Negara kepulauan terbesar di dunia tersebut. Kembali untuk turut membantu pembangunan Papua, itulah amanat presiden.
Nicholas Jouwe, buku-buku sejarah dalam kurikulum pendidikan Indonesia mungkin
tidak cukup baik memperkenalkan sosok tersebut. Seorang saksi sekaligus pelaku sejarah yang masih hidup hingga saat ini. Januari 2010, kepulangan resminya ke Indonesia dan tanah Papua menarik perhatian banyak orang.
Inilah Nicholas Jouwe
Pria yang lahir di tahun 1924 ini adalah putra seorang yang terkemuka di Papua kala itu.
Ketika itu di Papua, bahkan Indonesia sendiri tidak banyak orang yang boleh menikmati
pendidikan. Hanya mereka yang bersasal keluarga bangsawan saja yang mampu mendapatkan fasilitas itu. Nicholas Jouwe sendiri di masa mudanya, belajar dari seorang jawa bernama Sugoro untuk menjadi pamong praja.
Saat itu Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda banyak disibukkan dengan usaha-
usaha pencapaian kemerdekaan. Tokoh-tokoh nasionalis dan terkemuka yang merancang kemerdekaan tidak banyak memberikan perhatian untuk perkembangan-perkembangan daerah pelosok. Papua menjadi tertinggal bila dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.
(to be continued)